January 16, 2011

Rumah Sakit [habis]

"Ga, aku sakit"

Fokus ku terpecah saat pesan pada layar handphone ku baca, aku mencoba tenang. Ku sempatkan waktu untuk menelpon di sela-sela waktu deadline laporan untuk atasan.

"Kamu nggak sarapan lagi tadi? maag nya kambuh tuh"

"Lebih parah Ga, aku nggak kuat lagi"

"Wine itu lagi kan? bodoh kamu, tidak pernah menganggap perkataanku. Kamu dimana sekarang"


"Cipto"


"Aku segera kesana, aku khawatir"

Kuberlalu, meninggalkan berkas yang harus kuselesaikan hari ini juga. Kutulis sebuah note pada secarik kertas "Maaf Pak, ijin keluar kantor, Ibu sakit. From : Arga"

Semenjak kejadian di Cafe itu, enam bulan yang lalu, kami semakin dekat walaupun tanpa sebuah ikatan. Makin membuatku berfikir akan kasih sayang walaupun sekedar kebersamaan semu, apakah harus dinodai dengan berbagai hipotesa yang selalu mengedepankan takdir. Aku bertemu dengan dia bukankah sebuah takdir?.

"Sini Ga"

Matanya basah, aku tahu dia sangat senang aku berada di sampingnya, tak sanggup sekedar melepas genggaman tangannya yg sedari tadi memegang erat jemariku.


"Kamu betah ya keluar masuk Rumah Sakit?" candaku, mencoba membuatnya tertawa

"Iya, biar kamu jenguk aku terus" jawabnya

"Orang gila kamu"

"Cinta yang membuat aku gila, cinta dari kamu"

---------


Semua kejadian itu ku coba gambarkan pada sebuah tulisan, yang pasti tidak bisa ku biaskan. Saat itu aku merasakan kasih sayang amat terdalam dari seorang pria, pria yang sudah berkeluarga.  Aku menyesal, tulisan itu menggantung seakan menggambarkan takdirku dengannya. Aku hanya ingat terakhir kali wajahnya mulai memutih, pucat. Aku menyesal saat dekapnnya ku lepas, kenapa ku lepas? Tapi aku benci, tak ada sepatahpun yang dia ucapkan ditelingaku, hanya rintihan sakit yang teramat.

January 13, 2011

Lajang atau berkeluarga?

Beberapa hari belakangan masalah itu datang lagi, masalah rutin bagi manusia yang kurang bersyukur mungkin, hehe..

Kata siapa 'boros' hanya bagi mereka yang sudah berkeluarga, keperluan bulanan seperti bayar tagihan listrik, tagihan telepon, tagihan kartu kredit, beli asupan gizi bagi si baby, blablabla. Itu aja?

Bagaimana dengan si 'lajang'? ya Aku ini. Setara kok dengan pengeluaran mereka yang sudah berkeluarga, coba kita review:
  1. Beli kemeja baru sebagai pelengkap penampilan (gak lucu kan semisal datang ke sebuah acara kantor terutama menggunakan kemeja yang pernah dilihat rekan kantor pada acara-acara sebelumnya, terkecuali bagi mereka yang siap keesokan harinya menjadi bahan gosip satu kantor, hufh!)
  2. Beli sepatu baru (warna sepatu pun harus sesuai dengan kemeja yang baru kita beli, hehe)
  3. Kebutuhan untuk perawatan tubuh dan wajah (ini metropolitan Bos, gw juga kerja di kantor bukan di gudang), contoh saja jeli rambut, foam pembersih wajah, perfume, body lotion (ini penting agar kulit yang selalu berada di ruang ber-AC tetap sehat). Belum lagi biaya ke salon walau cuma buat potong rambut tiap bulannya, dan 'variable' lain sebagai penunjang itu semua.
  4. Biaya makan sehari-hari (walaupun sudah niat bawa 'bekel' dari rumah untuk makan siang, tetep aja tergoda buat nyobain makanan di luaran, terlebih jika rekan kantor ngajak makan bareng, mau ga mau partisipasi daripada ga ditemenin, hehe.
  5. Nah, ini sebenarnya termasuk pengeluaran yang banyak 'mengeluarkan'. Bosan dengan rutinitas kerja setiap hari, butuh refreshing, cuci mata. Hang-out sama teman, setiap minggu dijadwalkan untuk 'nonton', hura-hura dalam arti sebenarnya dan tanpa kita sadari akan kembali ke point pertama. hehehe..







    Paragraf di atas memang bukan mewakili kesemua 'lajang' di muka bumi ini, sekedar mengarahkan emosi saat pailit tetapi tidak ada jalan keluar sama sekali.

    January 7, 2011

    Renungan [bukan sekedar untuk direnungkan]


    “Hati sesorang tidak ada yang tahu, ya kan?”

    “Iya sih, tapi setidaknya harus diketahui dari sekarang”

    Masih ingat betul  pesan yang aku kirim kepada salah seorang teman yang memang dari kecil kami sangat dekat, sudah seperti saudara kandung.

    Sepertinya pesan itu secara diam-diam telah dikirimkan oleh seseorang kepada ku. Ya, aku memang diberikan kepercayaan kepada siapa saja yang ingin dekat dengan ku, aku masih butuh itu semua.

    Gundukan pasr itu telah luluh, kering, sampai susah untuk ditata kembali.

    Tangannya menamparku dengan keras, aku berharap lebih keras dari itu

    Mulanya cacat itu telah disembuhkannya dengan senyuman yang akhir-akhir ini hilang

    “Bukan hanya hati yang tidak bisa ditebak, perasaan pun sulit”

    Aku salah, bukan sekedar tamparan keras yang aku terima, aku lemah saat dia berucap.

    Tuhan, Dia dan Dia bersinergi dalam hikayat seorang manusia yang sedang berucap kematian.



    January 4, 2011

    Berharap kembali ke zaman batu

    07:40 WIB
    [masih tersisa 20 menit buat pemanasan jari, maklum keyboard kantor lebih kejam dari Ibu Tiri] LOL!

    Seakan kehabisan oksigen [itu kenapa tulisannya begitu?]
    Ada yang punya 'corrrection pen'? [percuma]
    Atau harus banting notebook? [gw banting ke muka lo]

    Anjrit!! [lanjut kerja]