November 26, 2010

Tuh kan!?

Dalam cahaya temaran kuadukan jemariku dengan keyboard laptop yang sedari tadi menemaniku lembur. Detak jam dinding berganti dengan alunan musik melalui earphone. Tumpukan file arsip kususun rapi di sebelahku, di sebelahnya lagi file yang sudah kuinput berantakan memenuhi meja.

Ah jenuh...

Kuketik 'www.facebook.com' pada text address Opera.

..Sign in..

Sebuah notifikasi aku abaikan. Kubuka satu halaman profile. Status dengan inisial namanya masih terpasang seperti kemaren. Kulihat kumpulan fotonya berulang-ulang. Andai dia tahu aku selalu memikirkannya. Aku tersenyum, sampai pada satu halaman...

Tuh kan!?

Terpasang foto dia bersama laki-laki itu. Aku mencoba tersenyum, tapi...

Ah, sial... mataku basah.



















copy image from flickr

(Thanks buat edit kata-katanya.. Love You)

November 18, 2010

Keluarga Ade

Tiga bulan sudah aku di mutasi oleh atasanku ke sebuah kota kecil yang belum terlalu ramai dengan hiruk pikuk kegiatan seperti pada kota ku sebelumnya, Jakarta. Tiga bulan pula aku harus menahan rindu dengan anak semata wayangku, Arga Danusetya.

..tut..tut..tut..

Terdengar suara khas bocah berumur 5 tahun di seberang sana

"Halo, siapa ini?"

"Halo Ade, lagi ngapain?"
sahutku.

"Papa, Ade lagi maen mobil-mobilan. Papa kapan pulang?"


"Lima hari lagi Papa pulang sayang, Ade mau Papa beliin apa?"

"Ade gak mau apa-apa Pa, Ade kangen sama Papa"

Itulah anakku yang selalu membuat aku bangga, itu juga yang menyebabkan aku tidak fokus kerja selama aku di kota ini.

"Iya, Papa juga kangen sama Ade. Ade sehat?"

"Sehat dong Pa. Pa, Papi juga kangen sama Papa katanya"

"Iya, bilang sama Papi, Papa juga kangen. Ya?"

...

Untuk kesekian kalinya aku harus menahan rindu ini sampai aku bisa berkumpul dengan mereka lagi.

-Lumayan terkesan dengan tanggapan dari teman, sangat terkesan dengan tanggapan salah seorang teman "Lo kenapa sih?"..-

November 17, 2010

Lost (Gilt of 'Lost' song)

Selingan:

Tuhan, Kau benar-benar membuat aku ingin sekali menjadi seorang penyanyi profesional, tampaknya aku bisa menyuguhkan 'pertunjukan' yang sangat bagus walau sekedar panggung pernikahan. Aku bersyukur.

-----------

Setiap manusia diberi kadar perasaan yang berbeda, dan tidak bisa dipungkiri fluktuatif  memang, hari ini aku bisa cinta sekali dengan kamu. Perasaan manusia bisa kita mainkan, benar kah?

Coba kamu utarakan apa yang ingin kamu katakan saat ini. "Aku benci sekali sama kamu". Aku akan menjadi pemurung, pemalas dan aku bisa memainkan perasaan kamu, aku akan katakan "Terlebih aku benci sama kamu". Apakah kamu menjadi pemurung bahkan pemalas? "Tidak, Aku akan meninggalkan kamu".

Dengan mudah perasaan dibuat, "I'm always there with you"

Dengan mudah perasaan diciptakan, "Kita putus!"

Aku masih bersandar di kursi kayu ini, masih tetap menunggu sembari sesekali memperhatikan jam di layar handphone. Terlalu cepat berubah, detik ke menit. Aku percaya kita masih bisa bertemu, walau batinku mulai berbicara yang bukan-bukan. Sekiranya apa yang pertama kamu ucapkan saat kita bertemu nanti, di tempat ini. "Aku rindu sekali sama kamu", "Kamu apa kabar?".

Aku masih disini, berharap boneka beruang besar ini bisa menjadi kado terindah. Saat kamu bilang "Maaf, aku tidak bisa datang kali ini, dan untuk seterusnya, terima kasih sudah memberikan perhatian yang besar selama ini", aku masih menunggu dan akan tetap menunggu.

"Summer turned to winter and the snow it turned to rain and the rain turned into tears upon your face".
----------

November 16, 2010

Cafe Seberang (Bagian Pertama)

Kali ini aku menghabiskan waktu makan siang di Café seberang kantor, seorang diri. Black coffee nya sangat kental yang disajikan bersama daun mint menjadi minuman favorit ku. Aku memang suka menyendiri, dengan begitu aku bebas melakukan apa saja tanpa harus ada yang merasa diabaikan. Ya, aku memang tipe orang yang tidak banyak bicara. Kebanyakan orang yang baru berjumpa dengan aku, selalu mempunyai anggapan bahwa aku orang yang sombong, tapi anggapan itu mulai sirna saat mereka mulai dekat dengan aku, mulai merasakan sosok yang berbeda dari aku. Siang ini aku hanya ingin sendiri, seperti siang-siang sebelumnya.



Tidak banyak memang siang ini yang sekedar singgah untuk menikmati sajian di Café ini, tidak dipungkiri makanan di sini memang istimewa, sangat cocok untuk pekerja kantoran yang lebih sering mementingkan cita rasa. Selain menu yang selalu berganti tiap hari, harganya pun sangat pas buat kalangan pekerja kantoran seperti saya.



Liima belas menit waktu berlalu, aku duduk, menghabiskan lima batang rokok. Biasanya aku sudah melihat dia, selalu bersama tiga temannya.



Sesaat kemudian dia datang hanya seorang diri, tidak biasanya. Kali ini aku perhatikan matanya agak merah, terlihat lesu. Jujur, aku sangat senang dengan keadaan seperti ini, aku selalu menunggu kesempatan ini, sudah dua bulan aku menyembunyikan perasaan ku ini. Aku mulai jatuh cinta. Entah kenapa saat ini perasaan ku berbeda, aku rindu saat ia tertawa lepas bersama teman-temannya. Tetapi kali ini aku ingin melindungi dia, ingin berbagi dengannya. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini, duduk satu meja dengan dia.



“Siang, sendiri?”  tanyaku

“Eh, ya.”  jawabnya sedikit kaget
“Teman kamu yang lain mana? tidak keberatan jika saya temani?"

“Boleh, silakan”



Ia tersenyum, menandakan ia tidak merasa terganggu sekedar aku temani mengobrol, aku duduk di kursi berhadapan dengan dia. Oh Tuhan, kali ini aku benar-benar dekat dengan dia.



“Kamu sudah pesan makan?” tanyaku

“Ini aku baru mau pesan”



Terjadi begitu saja, kami mulai dekat, mulai bisa memainkan emosi masing-masing. Kami mulai terbuka untuk bicara masalah pribadi sekalipun. Aku masih tidak percaya dengan kondisi yang aku alami saat ini, terlebih saat ia menyerahkan secarik kertas, sebuah kartu nama. Dari situ aku tahu namanya, tempat ia bekerja, bahkan nomor telepon yang bisa aku hubungi kapanpun aku mau. Aku pun sempat tidak percaya kalau dia seorang General Manager, jauh diatas jabatan yang aku pegang saat ini.



Keakraban kami pun tiba-tiba terpecah saat telepon selularnya berdering. Ia tampak serius menanggapi, sesekali ia berdiri dan menatap kosong ke luar jendela.



"Maaf ya, aku harus segera pergi"

"Oh, iya gak apa-apa, saya juga harus balik ke kantor" jawabku

"Thank you yah" balasnya, tidak lupa memberikan senyumanya yang manis, "See you" tambahnya

"See You"



Ia berlalu pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan sebuah luka. Luka yang tidak ingin aku sembuhkan.