"Ga, aku sakit"
Fokus ku terpecah saat pesan pada layar handphone ku baca, aku mencoba tenang. Ku sempatkan waktu untuk menelpon di sela-sela waktu deadline laporan untuk atasan.
"Kamu nggak sarapan lagi tadi? maag nya kambuh tuh"
"Lebih parah Ga, aku nggak kuat lagi"
"Wine itu lagi kan? bodoh kamu, tidak pernah menganggap perkataanku. Kamu dimana sekarang"
"Cipto"
"Aku segera kesana, aku khawatir"
Kuberlalu, meninggalkan berkas yang harus kuselesaikan hari ini juga. Kutulis sebuah note pada secarik kertas "Maaf Pak, ijin keluar kantor, Ibu sakit. From : Arga"
Semenjak kejadian di Cafe itu, enam bulan yang lalu, kami semakin dekat walaupun tanpa sebuah ikatan. Makin membuatku berfikir akan kasih sayang walaupun sekedar kebersamaan semu, apakah harus dinodai dengan berbagai hipotesa yang selalu mengedepankan takdir. Aku bertemu dengan dia bukankah sebuah takdir?.
"Sini Ga"
Matanya basah, aku tahu dia sangat senang aku berada di sampingnya, tak sanggup sekedar melepas genggaman tangannya yg sedari tadi memegang erat jemariku.
"Kamu betah ya keluar masuk Rumah Sakit?" candaku, mencoba membuatnya tertawa
"Iya, biar kamu jenguk aku terus" jawabnya
"Orang gila kamu"
"Cinta yang membuat aku gila, cinta dari kamu"
---------
Semua kejadian itu ku coba gambarkan pada sebuah tulisan, yang pasti tidak bisa ku biaskan. Saat itu aku merasakan kasih sayang amat terdalam dari seorang pria, pria yang sudah berkeluarga. Aku menyesal, tulisan itu menggantung seakan menggambarkan takdirku dengannya. Aku hanya ingat terakhir kali wajahnya mulai memutih, pucat. Aku menyesal saat dekapnnya ku lepas, kenapa ku lepas? Tapi aku benci, tak ada sepatahpun yang dia ucapkan ditelingaku, hanya rintihan sakit yang teramat.
January 16, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment