March 1, 2011

Haruskah seperti ini?

"Aku hanya tak ingin orang-orang yang Aku sayang juga Aku cintai menjadi sedih. Aku tak mau menjadikan sakit Ku beban pikiran buat mereka. Kanker"

Bahkan sudah habis air mata ini
Seolah bias cinta ini
Tak terdapat cawan perak
Hancur luluh percikan di tanah yang tandus

"Kamu jangan sedih ya, Aku sudah ikhlas kok dengan semuanya. Maafkan aku juga ya sayang, sampai saat ini Aku belum bisa membahagiakan Kamu. Semoga yang kuasa memberikan pengganti yang lebih baik dari Aku andai Aku telah pergi."

Sayap yang rapuh  
Hanya membawaku bergontai
Kerikil tak terasa
Saat Kau paksa Aku melangkah

"Sayang, Aku mohon maaf dari hatimu selama Aku telah berbuat khilaf keapadamu sebelum Aku lupa karenanya. Kelak, kalau Aku sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi, Aku masih bisa tersenyum lega karena maaf yang Kamu berikan."

Tiada cinta yang salah
Tiada rupa yang serupa
Aku, Kamu

"Jangan sedih ya sayang, tetap semangat. Aku sayang Kamu. Masih ingat kan kata-kata Ku, nasehat yang Ku berikan, semangat untuk menjalani hidup apapun konsekuensinya."

Saat memilih sebuah pilihan
Haruskah hendak menyalahkan Tuhan?

Copy image : http://www.flickr.com/photos/14723385@N00/195729243/

-Kenapaaaaa?-

February 6, 2011

Gambir [Romancing Us]

Langit terlihat mendung, hanya setengah pada tatapan mata kananku. Batinku menggerutu, seakan mengutuk keadaan ini. Aku tidak yakin ia akan datang menemuiku. Waktu yang membuat ku semakin yakin, ia tidak berani menemuiku.

"Ga"

Sepertinya suara itu tidak asing bagiku, suara yang aku rindukan selama ini, terdengar lembut dari belakang.

"Kok diem?" sahutnya

Seperti biasa, aku hanya bisa tersenyum, hanya bisa menunjuk jam tangan yang kupakai. Beruntunglah ia hanya telat setengah jam, satu menit lagi aku berniat pulang.

"Macet, Jakarta bukan"

"Iya, Indonesia"

"Waktuku nggak banyak, dua jam cukup kan?"

"Dua jam akan terasa cepat, apalagi bersama kamu"

"Maaf, dan terasa cepat bila kita terus seperti ini, hanya ingin tahu siapa yang benar"

"Lupakan, kita ngobrol di sana aja ya, kamu belum makan kan?" pintaku seraya menunjuk sebuah tempat makanan cepat saji

bisa ditebak kami hanya diam, untunglah dia bisa membuat suasana menjadi hangat. Persis seperti dugaanku, kami bisa menjadi lebih dekat saat ini, aku yang pendiam dan dia yang selalu melontarkan lelucon konyol yang membuatku tertawa. Aku senang.

"Aku bosan suasana seperti ini, persis dengan suasana kantor ku" ia selalu memulai pembicaraan

"Kamu lihat di luar, mendung sudah berganti cerah" sahutku

"Alam pun merestui kita sayang" sembari menatap dalam ke arahku, aku mencoba tenang

"Mungkin"

Kami berjalan menyusuri trotoar, langkah kami sangat serasi. Sepertinya ia tahu tempat yang cocok untuk moment seperti ini, aku pasrah saat ia mengarahkan langkah kakiku. Langkah kami terhenti pada sebuah hamparan padang rumput. Kami duduk bersila bersebelahan, sesekali ia meluruskan kakinya,
aku tahu ia lelah. Aku mencoba membetulkan posisi dudukku berharap lebih dekat dengannya. Aku melihat jam tanganku menunjukan waktu pukul 17.10 waktu Jakarta.

"Kenapa, kamu sudah ada janji dengan orang lain?"

"Nggak, aku hanya heran waktu begitu cepatnya berlalu"

"Jangan tinggalkan aku Ga"

"Bukan sekarang maksudmu?, aku paling benci orang yang memohon tinggal tetapi malah dia yang pergi"

Aku lajang, sedangkan dia sudah berkeluarga lengkap dengan putra-putri yang ia sayang. Banyak sahabat terdekatku yang paham akan keadaanku sekarang bertanya "Kenapa tidak dengan lajang juga?". "Kapok, aku trauma. Mereka belum mengerti kesetiaan dan tanggung jawab yang sesungguhnya". "Tuh kan, lagi-lagi kamu menggunakan perasaan daripada logikamu, dasar perempuan"

"Kita kembali ke dalam saja, senja ini seolah menyuruhku cepat pulang"

Aku suka sekali senja, karena senja akan membawaku pada malam hari. Malam yang membuatku bebas, sekedar menangis di tempat tidur. Ia mencoba memberikan warna lain ketika senja itu mulai mengejarku. Aku terdiam bahkan untuk berucap sepatahpun. Ia mencium pipiku. "Aku sayang kamu". Ah, kenapa dia melakukannya di sini, keramaian yang menahanku membalas ciumannya.

Kereta itu membawanya pergi, membawa segala harapanku padanya, membawa ia kembali ke tempat yang seharusnya, membawa ia pada tangisan anak-anaknya yang merindukannya. Ada rasa cemburu saat bersamanya, andai dia tahu kalau aku benar-benar ingin menjadi bagian dirinya.
Lamunanku terpecah, ada sebuah message di ponselku, met malam sayang... kamu adalah bintang yang memberikanku nuansa malam yang benderang. Kamu juga adalah bintang yang cahayamu membedakan bintang-bintang yang lainnya. Mendekatlah bintang agar aku bisa meraihmu... agar aku bisa menjadikanmu... bintang dalam hatiku.

January 16, 2011

Rumah Sakit [habis]

"Ga, aku sakit"

Fokus ku terpecah saat pesan pada layar handphone ku baca, aku mencoba tenang. Ku sempatkan waktu untuk menelpon di sela-sela waktu deadline laporan untuk atasan.

"Kamu nggak sarapan lagi tadi? maag nya kambuh tuh"

"Lebih parah Ga, aku nggak kuat lagi"

"Wine itu lagi kan? bodoh kamu, tidak pernah menganggap perkataanku. Kamu dimana sekarang"


"Cipto"


"Aku segera kesana, aku khawatir"

Kuberlalu, meninggalkan berkas yang harus kuselesaikan hari ini juga. Kutulis sebuah note pada secarik kertas "Maaf Pak, ijin keluar kantor, Ibu sakit. From : Arga"

Semenjak kejadian di Cafe itu, enam bulan yang lalu, kami semakin dekat walaupun tanpa sebuah ikatan. Makin membuatku berfikir akan kasih sayang walaupun sekedar kebersamaan semu, apakah harus dinodai dengan berbagai hipotesa yang selalu mengedepankan takdir. Aku bertemu dengan dia bukankah sebuah takdir?.

"Sini Ga"

Matanya basah, aku tahu dia sangat senang aku berada di sampingnya, tak sanggup sekedar melepas genggaman tangannya yg sedari tadi memegang erat jemariku.


"Kamu betah ya keluar masuk Rumah Sakit?" candaku, mencoba membuatnya tertawa

"Iya, biar kamu jenguk aku terus" jawabnya

"Orang gila kamu"

"Cinta yang membuat aku gila, cinta dari kamu"

---------


Semua kejadian itu ku coba gambarkan pada sebuah tulisan, yang pasti tidak bisa ku biaskan. Saat itu aku merasakan kasih sayang amat terdalam dari seorang pria, pria yang sudah berkeluarga.  Aku menyesal, tulisan itu menggantung seakan menggambarkan takdirku dengannya. Aku hanya ingat terakhir kali wajahnya mulai memutih, pucat. Aku menyesal saat dekapnnya ku lepas, kenapa ku lepas? Tapi aku benci, tak ada sepatahpun yang dia ucapkan ditelingaku, hanya rintihan sakit yang teramat.