Kali ini aku menghabiskan waktu makan siang di Café seberang kantor, seorang diri. Black coffee nya sangat kental yang disajikan bersama daun mint menjadi minuman favorit ku. Aku memang suka menyendiri, dengan begitu aku bebas melakukan apa saja tanpa harus ada yang merasa diabaikan. Ya, aku memang tipe orang yang tidak banyak bicara. Kebanyakan orang yang baru berjumpa dengan aku, selalu mempunyai anggapan bahwa aku orang yang sombong, tapi anggapan itu mulai sirna saat mereka mulai dekat dengan aku, mulai merasakan sosok yang berbeda dari aku. Siang ini aku hanya ingin sendiri, seperti siang-siang sebelumnya.
Tidak banyak memang siang ini yang sekedar singgah untuk menikmati sajian di Café ini, tidak dipungkiri makanan di sini memang istimewa, sangat cocok untuk pekerja kantoran yang lebih sering mementingkan cita rasa. Selain menu yang selalu berganti tiap hari, harganya pun sangat pas buat kalangan pekerja kantoran seperti saya.
Liima belas menit waktu berlalu, aku duduk, menghabiskan lima batang rokok. Biasanya aku sudah melihat dia, selalu bersama tiga temannya.
Sesaat kemudian dia datang hanya seorang diri, tidak biasanya. Kali ini aku perhatikan matanya agak merah, terlihat lesu. Jujur, aku sangat senang dengan keadaan seperti ini, aku selalu menunggu kesempatan ini, sudah dua bulan aku menyembunyikan perasaan ku ini. Aku mulai jatuh cinta. Entah kenapa saat ini perasaan ku berbeda, aku rindu saat ia tertawa lepas bersama teman-temannya. Tetapi kali ini aku ingin melindungi dia, ingin berbagi dengannya. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini, duduk satu meja dengan dia.
“Siang, sendiri?” tanyaku
“Eh, ya.” jawabnya sedikit kaget
“Teman kamu yang lain mana? tidak keberatan jika saya temani?"
“Boleh, silakan”
Ia tersenyum, menandakan ia tidak merasa terganggu sekedar aku temani mengobrol, aku duduk di kursi berhadapan dengan dia. Oh Tuhan, kali ini aku benar-benar dekat dengan dia.
“Kamu sudah pesan makan?” tanyaku
“Ini aku baru mau pesan”
Terjadi begitu saja, kami mulai dekat, mulai bisa memainkan emosi masing-masing. Kami mulai terbuka untuk bicara masalah pribadi sekalipun. Aku masih tidak percaya dengan kondisi yang aku alami saat ini, terlebih saat ia menyerahkan secarik kertas, sebuah kartu nama. Dari situ aku tahu namanya, tempat ia bekerja, bahkan nomor telepon yang bisa aku hubungi kapanpun aku mau. Aku pun sempat tidak percaya kalau dia seorang General Manager, jauh diatas jabatan yang aku pegang saat ini.
Keakraban kami pun tiba-tiba terpecah saat telepon selularnya berdering. Ia tampak serius menanggapi, sesekali ia berdiri dan menatap kosong ke luar jendela.
"Maaf ya, aku harus segera pergi"
"Oh, iya gak apa-apa, saya juga harus balik ke kantor" jawabku
"Thank you yah" balasnya, tidak lupa memberikan senyumanya yang manis, "See you" tambahnya
"See You"
Ia berlalu pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan sebuah luka. Luka yang tidak ingin aku sembuhkan.
Tidak banyak memang siang ini yang sekedar singgah untuk menikmati sajian di Café ini, tidak dipungkiri makanan di sini memang istimewa, sangat cocok untuk pekerja kantoran yang lebih sering mementingkan cita rasa. Selain menu yang selalu berganti tiap hari, harganya pun sangat pas buat kalangan pekerja kantoran seperti saya.
Liima belas menit waktu berlalu, aku duduk, menghabiskan lima batang rokok. Biasanya aku sudah melihat dia, selalu bersama tiga temannya.
Sesaat kemudian dia datang hanya seorang diri, tidak biasanya. Kali ini aku perhatikan matanya agak merah, terlihat lesu. Jujur, aku sangat senang dengan keadaan seperti ini, aku selalu menunggu kesempatan ini, sudah dua bulan aku menyembunyikan perasaan ku ini. Aku mulai jatuh cinta. Entah kenapa saat ini perasaan ku berbeda, aku rindu saat ia tertawa lepas bersama teman-temannya. Tetapi kali ini aku ingin melindungi dia, ingin berbagi dengannya. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini, duduk satu meja dengan dia.
“Siang, sendiri?” tanyaku
“Eh, ya.” jawabnya sedikit kaget
“Teman kamu yang lain mana? tidak keberatan jika saya temani?"
“Boleh, silakan”
Ia tersenyum, menandakan ia tidak merasa terganggu sekedar aku temani mengobrol, aku duduk di kursi berhadapan dengan dia. Oh Tuhan, kali ini aku benar-benar dekat dengan dia.
“Kamu sudah pesan makan?” tanyaku
“Ini aku baru mau pesan”
Terjadi begitu saja, kami mulai dekat, mulai bisa memainkan emosi masing-masing. Kami mulai terbuka untuk bicara masalah pribadi sekalipun. Aku masih tidak percaya dengan kondisi yang aku alami saat ini, terlebih saat ia menyerahkan secarik kertas, sebuah kartu nama. Dari situ aku tahu namanya, tempat ia bekerja, bahkan nomor telepon yang bisa aku hubungi kapanpun aku mau. Aku pun sempat tidak percaya kalau dia seorang General Manager, jauh diatas jabatan yang aku pegang saat ini.
Keakraban kami pun tiba-tiba terpecah saat telepon selularnya berdering. Ia tampak serius menanggapi, sesekali ia berdiri dan menatap kosong ke luar jendela.
"Maaf ya, aku harus segera pergi"
"Oh, iya gak apa-apa, saya juga harus balik ke kantor" jawabku
"Thank you yah" balasnya, tidak lupa memberikan senyumanya yang manis, "See you" tambahnya
"See You"
Ia berlalu pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan sebuah luka. Luka yang tidak ingin aku sembuhkan.


0 comments:
Post a Comment