Take Picture By Maulana, Ade Mario
November 3, 2011
March 28, 2011
Aku ingin [seperti] yang lain
Aku sebagai lilin,
Hanya kau gunakan pada saat cahaya lentera padam
Aku menerangimu walau harus menahan luka terbakar
Mencair luluh sampai tiba pada peraduanku
Aku sebagai boneka beruang,
Hanya bisa melihatmu asik bermain dengan mainanmu yang lain
Memandangmu kesal berharap aku kau ambil keluar dari laci ruang tamu
Aku sebagai kelopak mawar,
Kau agungkan aku
Kau percantik aku
Bahkan kau melebih-lebihkan aku
Setidaknya aku dalam bagian puisimu
Aku roh yang bebas
Terikat pada raga beku
Hanya kau gunakan pada saat cahaya lentera padam
Aku menerangimu walau harus menahan luka terbakar
Mencair luluh sampai tiba pada peraduanku
Aku sebagai boneka beruang,
Hanya bisa melihatmu asik bermain dengan mainanmu yang lain
Memandangmu kesal berharap aku kau ambil keluar dari laci ruang tamu
Aku sebagai kelopak mawar,
Kau agungkan aku
Kau percantik aku
Bahkan kau melebih-lebihkan aku
Setidaknya aku dalam bagian puisimu
Aku roh yang bebas
Terikat pada raga beku
March 22, 2011
March 1, 2011
Haruskah seperti ini?
"Aku hanya tak ingin orang-orang yang Aku sayang juga Aku cintai menjadi sedih. Aku tak mau menjadikan sakit Ku beban pikiran buat mereka. Kanker"
"Kamu jangan sedih ya, Aku sudah ikhlas kok dengan semuanya. Maafkan aku juga ya sayang, sampai saat ini Aku belum bisa membahagiakan Kamu. Semoga yang kuasa memberikan pengganti yang lebih baik dari Aku andai Aku telah pergi."
"Sayang, Aku mohon maaf dari hatimu selama Aku telah berbuat khilaf keapadamu sebelum Aku lupa karenanya. Kelak, kalau Aku sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi, Aku masih bisa tersenyum lega karena maaf yang Kamu berikan."
"Jangan sedih ya sayang, tetap semangat. Aku sayang Kamu. Masih ingat kan kata-kata Ku, nasehat yang Ku berikan, semangat untuk menjalani hidup apapun konsekuensinya."
Copy image : http://www.flickr.com/photos/14723385@N00/195729243/
-Kenapaaaaa?-
Bahkan sudah habis air mata ini
Seolah bias cinta ini
Tak terdapat cawan perak
Hancur luluh percikan di tanah yang tandus
"Kamu jangan sedih ya, Aku sudah ikhlas kok dengan semuanya. Maafkan aku juga ya sayang, sampai saat ini Aku belum bisa membahagiakan Kamu. Semoga yang kuasa memberikan pengganti yang lebih baik dari Aku andai Aku telah pergi."
Sayap yang rapuh
Hanya membawaku bergontai
Kerikil tak terasa
Saat Kau paksa Aku melangkah
"Sayang, Aku mohon maaf dari hatimu selama Aku telah berbuat khilaf keapadamu sebelum Aku lupa karenanya. Kelak, kalau Aku sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi, Aku masih bisa tersenyum lega karena maaf yang Kamu berikan."
Tiada cinta yang salah
Tiada rupa yang serupa
Aku, Kamu
"Jangan sedih ya sayang, tetap semangat. Aku sayang Kamu. Masih ingat kan kata-kata Ku, nasehat yang Ku berikan, semangat untuk menjalani hidup apapun konsekuensinya."
Saat memilih sebuah pilihan
Haruskah hendak menyalahkan Tuhan?
Copy image : http://www.flickr.com/photos/14723385@N00/195729243/
-Kenapaaaaa?-
February 6, 2011
Gambir [Romancing Us]
Langit terlihat mendung, hanya setengah pada tatapan mata kananku. Batinku menggerutu, seakan mengutuk keadaan ini. Aku tidak yakin ia akan datang menemuiku. Waktu yang membuat ku semakin yakin, ia tidak berani menemuiku.
"Ga"
Sepertinya suara itu tidak asing bagiku, suara yang aku rindukan selama ini, terdengar lembut dari belakang.
"Kok diem?" sahutnya
Seperti biasa, aku hanya bisa tersenyum, hanya bisa menunjuk jam tangan yang kupakai. Beruntunglah ia hanya telat setengah jam, satu menit lagi aku berniat pulang.
"Macet, Jakarta bukan"
"Iya, Indonesia"
"Waktuku nggak banyak, dua jam cukup kan?"
"Dua jam akan terasa cepat, apalagi bersama kamu"
"Maaf, dan terasa cepat bila kita terus seperti ini, hanya ingin tahu siapa yang benar"
"Lupakan, kita ngobrol di sana aja ya, kamu belum makan kan?" pintaku seraya menunjuk sebuah tempat makanan cepat saji
bisa ditebak kami hanya diam, untunglah dia bisa membuat suasana menjadi hangat. Persis seperti dugaanku, kami bisa menjadi lebih dekat saat ini, aku yang pendiam dan dia yang selalu melontarkan lelucon konyol yang membuatku tertawa. Aku senang.
"Aku bosan suasana seperti ini, persis dengan suasana kantor ku" ia selalu memulai pembicaraan
"Kamu lihat di luar, mendung sudah berganti cerah" sahutku
"Alam pun merestui kita sayang" sembari menatap dalam ke arahku, aku mencoba tenang
"Mungkin"
Kami berjalan menyusuri trotoar, langkah kami sangat serasi. Sepertinya ia tahu tempat yang cocok untuk moment seperti ini, aku pasrah saat ia mengarahkan langkah kakiku. Langkah kami terhenti pada sebuah hamparan padang rumput. Kami duduk bersila bersebelahan, sesekali ia meluruskan kakinya,
aku tahu ia lelah. Aku mencoba membetulkan posisi dudukku berharap lebih dekat dengannya. Aku melihat jam tanganku menunjukan waktu pukul 17.10 waktu Jakarta.
"Kenapa, kamu sudah ada janji dengan orang lain?"
"Nggak, aku hanya heran waktu begitu cepatnya berlalu"
"Jangan tinggalkan aku Ga"
"Bukan sekarang maksudmu?, aku paling benci orang yang memohon tinggal tetapi malah dia yang pergi"
Aku lajang, sedangkan dia sudah berkeluarga lengkap dengan putra-putri yang ia sayang. Banyak sahabat terdekatku yang paham akan keadaanku sekarang bertanya "Kenapa tidak dengan lajang juga?". "Kapok, aku trauma. Mereka belum mengerti kesetiaan dan tanggung jawab yang sesungguhnya". "Tuh kan, lagi-lagi kamu menggunakan perasaan daripada logikamu, dasar perempuan"
"Kita kembali ke dalam saja, senja ini seolah menyuruhku cepat pulang"
Aku suka sekali senja, karena senja akan membawaku pada malam hari. Malam yang membuatku bebas, sekedar menangis di tempat tidur. Ia mencoba memberikan warna lain ketika senja itu mulai mengejarku. Aku terdiam bahkan untuk berucap sepatahpun. Ia mencium pipiku. "Aku sayang kamu". Ah, kenapa dia melakukannya di sini, keramaian yang menahanku membalas ciumannya.
Kereta itu membawanya pergi, membawa segala harapanku padanya, membawa ia kembali ke tempat yang seharusnya, membawa ia pada tangisan anak-anaknya yang merindukannya. Ada rasa cemburu saat bersamanya, andai dia tahu kalau aku benar-benar ingin menjadi bagian dirinya.
Lamunanku terpecah, ada sebuah message di ponselku, met malam sayang... kamu adalah bintang yang memberikanku nuansa malam yang benderang. Kamu juga adalah bintang yang cahayamu membedakan bintang-bintang yang lainnya. Mendekatlah bintang agar aku bisa meraihmu... agar aku bisa menjadikanmu... bintang dalam hatiku.
"Ga"
Sepertinya suara itu tidak asing bagiku, suara yang aku rindukan selama ini, terdengar lembut dari belakang.
"Kok diem?" sahutnya
Seperti biasa, aku hanya bisa tersenyum, hanya bisa menunjuk jam tangan yang kupakai. Beruntunglah ia hanya telat setengah jam, satu menit lagi aku berniat pulang.
"Macet, Jakarta bukan"
"Iya, Indonesia"
"Waktuku nggak banyak, dua jam cukup kan?"
"Dua jam akan terasa cepat, apalagi bersama kamu"
"Maaf, dan terasa cepat bila kita terus seperti ini, hanya ingin tahu siapa yang benar"
"Lupakan, kita ngobrol di sana aja ya, kamu belum makan kan?" pintaku seraya menunjuk sebuah tempat makanan cepat saji
bisa ditebak kami hanya diam, untunglah dia bisa membuat suasana menjadi hangat. Persis seperti dugaanku, kami bisa menjadi lebih dekat saat ini, aku yang pendiam dan dia yang selalu melontarkan lelucon konyol yang membuatku tertawa. Aku senang.
"Aku bosan suasana seperti ini, persis dengan suasana kantor ku" ia selalu memulai pembicaraan
"Kamu lihat di luar, mendung sudah berganti cerah" sahutku
"Alam pun merestui kita sayang" sembari menatap dalam ke arahku, aku mencoba tenang
"Mungkin"
Kami berjalan menyusuri trotoar, langkah kami sangat serasi. Sepertinya ia tahu tempat yang cocok untuk moment seperti ini, aku pasrah saat ia mengarahkan langkah kakiku. Langkah kami terhenti pada sebuah hamparan padang rumput. Kami duduk bersila bersebelahan, sesekali ia meluruskan kakinya,
aku tahu ia lelah. Aku mencoba membetulkan posisi dudukku berharap lebih dekat dengannya. Aku melihat jam tanganku menunjukan waktu pukul 17.10 waktu Jakarta.
"Kenapa, kamu sudah ada janji dengan orang lain?"
"Nggak, aku hanya heran waktu begitu cepatnya berlalu"
"Jangan tinggalkan aku Ga"
"Bukan sekarang maksudmu?, aku paling benci orang yang memohon tinggal tetapi malah dia yang pergi"
Aku lajang, sedangkan dia sudah berkeluarga lengkap dengan putra-putri yang ia sayang. Banyak sahabat terdekatku yang paham akan keadaanku sekarang bertanya "Kenapa tidak dengan lajang juga?". "Kapok, aku trauma. Mereka belum mengerti kesetiaan dan tanggung jawab yang sesungguhnya". "Tuh kan, lagi-lagi kamu menggunakan perasaan daripada logikamu, dasar perempuan"
"Kita kembali ke dalam saja, senja ini seolah menyuruhku cepat pulang"
Aku suka sekali senja, karena senja akan membawaku pada malam hari. Malam yang membuatku bebas, sekedar menangis di tempat tidur. Ia mencoba memberikan warna lain ketika senja itu mulai mengejarku. Aku terdiam bahkan untuk berucap sepatahpun. Ia mencium pipiku. "Aku sayang kamu". Ah, kenapa dia melakukannya di sini, keramaian yang menahanku membalas ciumannya.
Kereta itu membawanya pergi, membawa segala harapanku padanya, membawa ia kembali ke tempat yang seharusnya, membawa ia pada tangisan anak-anaknya yang merindukannya. Ada rasa cemburu saat bersamanya, andai dia tahu kalau aku benar-benar ingin menjadi bagian dirinya.
Lamunanku terpecah, ada sebuah message di ponselku, met malam sayang... kamu adalah bintang yang memberikanku nuansa malam yang benderang. Kamu juga adalah bintang yang cahayamu membedakan bintang-bintang yang lainnya. Mendekatlah bintang agar aku bisa meraihmu... agar aku bisa menjadikanmu... bintang dalam hatiku.
January 16, 2011
Rumah Sakit [habis]
"Ga, aku sakit"
Fokus ku terpecah saat pesan pada layar handphone ku baca, aku mencoba tenang. Ku sempatkan waktu untuk menelpon di sela-sela waktu deadline laporan untuk atasan.
"Kamu nggak sarapan lagi tadi? maag nya kambuh tuh"
"Lebih parah Ga, aku nggak kuat lagi"
"Wine itu lagi kan? bodoh kamu, tidak pernah menganggap perkataanku. Kamu dimana sekarang"
"Cipto"
"Aku segera kesana, aku khawatir"
Kuberlalu, meninggalkan berkas yang harus kuselesaikan hari ini juga. Kutulis sebuah note pada secarik kertas "Maaf Pak, ijin keluar kantor, Ibu sakit. From : Arga"
Semenjak kejadian di Cafe itu, enam bulan yang lalu, kami semakin dekat walaupun tanpa sebuah ikatan. Makin membuatku berfikir akan kasih sayang walaupun sekedar kebersamaan semu, apakah harus dinodai dengan berbagai hipotesa yang selalu mengedepankan takdir. Aku bertemu dengan dia bukankah sebuah takdir?.
"Sini Ga"
Matanya basah, aku tahu dia sangat senang aku berada di sampingnya, tak sanggup sekedar melepas genggaman tangannya yg sedari tadi memegang erat jemariku.
"Kamu betah ya keluar masuk Rumah Sakit?" candaku, mencoba membuatnya tertawa
"Iya, biar kamu jenguk aku terus" jawabnya
"Orang gila kamu"
"Cinta yang membuat aku gila, cinta dari kamu"
---------
Semua kejadian itu ku coba gambarkan pada sebuah tulisan, yang pasti tidak bisa ku biaskan. Saat itu aku merasakan kasih sayang amat terdalam dari seorang pria, pria yang sudah berkeluarga. Aku menyesal, tulisan itu menggantung seakan menggambarkan takdirku dengannya. Aku hanya ingat terakhir kali wajahnya mulai memutih, pucat. Aku menyesal saat dekapnnya ku lepas, kenapa ku lepas? Tapi aku benci, tak ada sepatahpun yang dia ucapkan ditelingaku, hanya rintihan sakit yang teramat.
Fokus ku terpecah saat pesan pada layar handphone ku baca, aku mencoba tenang. Ku sempatkan waktu untuk menelpon di sela-sela waktu deadline laporan untuk atasan.
"Kamu nggak sarapan lagi tadi? maag nya kambuh tuh"
"Lebih parah Ga, aku nggak kuat lagi"
"Wine itu lagi kan? bodoh kamu, tidak pernah menganggap perkataanku. Kamu dimana sekarang"
"Cipto"
"Aku segera kesana, aku khawatir"
Kuberlalu, meninggalkan berkas yang harus kuselesaikan hari ini juga. Kutulis sebuah note pada secarik kertas "Maaf Pak, ijin keluar kantor, Ibu sakit. From : Arga"
Semenjak kejadian di Cafe itu, enam bulan yang lalu, kami semakin dekat walaupun tanpa sebuah ikatan. Makin membuatku berfikir akan kasih sayang walaupun sekedar kebersamaan semu, apakah harus dinodai dengan berbagai hipotesa yang selalu mengedepankan takdir. Aku bertemu dengan dia bukankah sebuah takdir?.
"Sini Ga"
Matanya basah, aku tahu dia sangat senang aku berada di sampingnya, tak sanggup sekedar melepas genggaman tangannya yg sedari tadi memegang erat jemariku.
"Kamu betah ya keluar masuk Rumah Sakit?" candaku, mencoba membuatnya tertawa
"Iya, biar kamu jenguk aku terus" jawabnya
"Orang gila kamu"
"Cinta yang membuat aku gila, cinta dari kamu"
---------
Semua kejadian itu ku coba gambarkan pada sebuah tulisan, yang pasti tidak bisa ku biaskan. Saat itu aku merasakan kasih sayang amat terdalam dari seorang pria, pria yang sudah berkeluarga. Aku menyesal, tulisan itu menggantung seakan menggambarkan takdirku dengannya. Aku hanya ingat terakhir kali wajahnya mulai memutih, pucat. Aku menyesal saat dekapnnya ku lepas, kenapa ku lepas? Tapi aku benci, tak ada sepatahpun yang dia ucapkan ditelingaku, hanya rintihan sakit yang teramat.
January 13, 2011
Lajang atau berkeluarga?
Beberapa hari belakangan masalah itu datang lagi, masalah rutin bagi manusia yang kurang bersyukur mungkin, hehe..
Kata siapa 'boros' hanya bagi mereka yang sudah berkeluarga, keperluan bulanan seperti bayar tagihan listrik, tagihan telepon, tagihan kartu kredit, beli asupan gizi bagi si baby, blablabla. Itu aja?
Bagaimana dengan si 'lajang'? ya Aku ini. Setara kok dengan pengeluaran mereka yang sudah berkeluarga, coba kita review:
Paragraf di atas memang bukan mewakili kesemua 'lajang' di muka bumi ini, sekedar mengarahkan emosi saat pailit tetapi tidak ada jalan keluar sama sekali.
Kata siapa 'boros' hanya bagi mereka yang sudah berkeluarga, keperluan bulanan seperti bayar tagihan listrik, tagihan telepon, tagihan kartu kredit, beli asupan gizi bagi si baby, blablabla. Itu aja?
Bagaimana dengan si 'lajang'? ya Aku ini. Setara kok dengan pengeluaran mereka yang sudah berkeluarga, coba kita review:
- Beli kemeja baru sebagai pelengkap penampilan (gak lucu kan semisal datang ke sebuah acara kantor terutama menggunakan kemeja yang pernah dilihat rekan kantor pada acara-acara sebelumnya, terkecuali bagi mereka yang siap keesokan harinya menjadi bahan gosip satu kantor, hufh!)
- Beli sepatu baru (warna sepatu pun harus sesuai dengan kemeja yang baru kita beli, hehe)
- Kebutuhan untuk perawatan tubuh dan wajah (ini metropolitan Bos, gw juga kerja di kantor bukan di gudang), contoh saja jeli rambut, foam pembersih wajah, perfume, body lotion (ini penting agar kulit yang selalu berada di ruang ber-AC tetap sehat). Belum lagi biaya ke salon walau cuma buat potong rambut tiap bulannya, dan 'variable' lain sebagai penunjang itu semua.
- Biaya makan sehari-hari (walaupun sudah niat bawa 'bekel' dari rumah untuk makan siang, tetep aja tergoda buat nyobain makanan di luaran, terlebih jika rekan kantor ngajak makan bareng, mau ga mau partisipasi daripada ga ditemenin, hehe.
- Nah, ini sebenarnya termasuk pengeluaran yang banyak 'mengeluarkan'. Bosan dengan rutinitas kerja setiap hari, butuh refreshing, cuci mata. Hang-out sama teman, setiap minggu dijadwalkan untuk 'nonton', hura-hura dalam arti sebenarnya dan tanpa kita sadari akan kembali ke point pertama. hehehe..
Paragraf di atas memang bukan mewakili kesemua 'lajang' di muka bumi ini, sekedar mengarahkan emosi saat pailit tetapi tidak ada jalan keluar sama sekali.
January 7, 2011
Renungan [bukan sekedar untuk direnungkan]
“Hati sesorang tidak ada yang tahu, ya kan?”
“Iya sih, tapi setidaknya harus diketahui dari sekarang”
Masih ingat betul pesan yang aku kirim kepada salah seorang teman yang memang dari kecil kami sangat dekat, sudah seperti saudara kandung.
Sepertinya pesan itu secara diam-diam telah dikirimkan oleh seseorang kepada ku. Ya, aku memang diberikan kepercayaan kepada siapa saja yang ingin dekat dengan ku, aku masih butuh itu semua.
Gundukan pasr itu telah luluh, kering, sampai susah untuk ditata kembali.
Tangannya menamparku dengan keras, aku berharap lebih keras dari itu
Mulanya cacat itu telah disembuhkannya dengan senyuman yang akhir-akhir ini hilang
“Bukan hanya hati yang tidak bisa ditebak, perasaan pun sulit”
Aku salah, bukan sekedar tamparan keras yang aku terima, aku lemah saat dia berucap.
Tuhan, Dia dan Dia bersinergi dalam hikayat seorang manusia yang sedang berucap kematian.
January 4, 2011
Berharap kembali ke zaman batu
07:40 WIB
[masih tersisa 20 menit buat pemanasan jari, maklum keyboard kantor lebih kejam dari Ibu Tiri] LOL!
Seakan kehabisan oksigen [itu kenapa tulisannya begitu?]
Ada yang punya 'corrrection pen'? [percuma]
Atau harus banting notebook? [gw banting ke muka lo]
Anjrit!! [lanjut kerja]
[masih tersisa 20 menit buat pemanasan jari, maklum keyboard kantor lebih kejam dari Ibu Tiri] LOL!
Seakan kehabisan oksigen [itu kenapa tulisannya begitu?]
Ada yang punya 'corrrection pen'? [percuma]
Atau harus banting notebook? [gw banting ke muka lo]
Anjrit!! [lanjut kerja]
November 26, 2010
Tuh kan!?
Dalam cahaya temaran kuadukan jemariku dengan keyboard laptop yang sedari tadi menemaniku lembur. Detak jam dinding berganti dengan alunan musik melalui earphone. Tumpukan file arsip kususun rapi di sebelahku, di sebelahnya lagi file yang sudah kuinput berantakan memenuhi meja.
Ah jenuh...
Kuketik 'www.facebook.com' pada text address Opera.
..Sign in..
Sebuah notifikasi aku abaikan. Kubuka satu halaman profile. Status dengan inisial namanya masih terpasang seperti kemaren. Kulihat kumpulan fotonya berulang-ulang. Andai dia tahu aku selalu memikirkannya. Aku tersenyum, sampai pada satu halaman...
Tuh kan!?
Terpasang foto dia bersama laki-laki itu. Aku mencoba tersenyum, tapi...
Ah, sial... mataku basah.
copy image from flickr
(Thanks buat edit kata-katanya.. Love You)
November 18, 2010
Keluarga Ade
Tiga bulan sudah aku di mutasi oleh atasanku ke sebuah kota kecil yang belum terlalu ramai dengan hiruk pikuk kegiatan seperti pada kota ku sebelumnya, Jakarta. Tiga bulan pula aku harus menahan rindu dengan anak semata wayangku, Arga Danusetya.
..tut..tut..tut..
Terdengar suara khas bocah berumur 5 tahun di seberang sana
..tut..tut..tut..
Terdengar suara khas bocah berumur 5 tahun di seberang sana
"Halo, siapa ini?"
"Halo Ade, lagi ngapain?" sahutku.
"Papa, Ade lagi maen mobil-mobilan. Papa kapan pulang?"
"Lima hari lagi Papa pulang sayang, Ade mau Papa beliin apa?"
"Ade gak mau apa-apa Pa, Ade kangen sama Papa"
Itulah anakku yang selalu membuat aku bangga, itu juga yang menyebabkan aku tidak fokus kerja selama aku di kota ini.
"Iya, Papa juga kangen sama Ade. Ade sehat?"
"Sehat dong Pa. Pa, Papi juga kangen sama Papa katanya"
"Iya, bilang sama Papi, Papa juga kangen. Ya?"
...
Untuk kesekian kalinya aku harus menahan rindu ini sampai aku bisa berkumpul dengan mereka lagi.
-Lumayan terkesan dengan tanggapan dari teman, sangat terkesan dengan tanggapan salah seorang teman "Lo kenapa sih?"..-
November 17, 2010
Lost (Gilt of 'Lost' song)
Selingan:
Tuhan, Kau benar-benar membuat aku ingin sekali menjadi seorang penyanyi profesional, tampaknya aku bisa menyuguhkan 'pertunjukan' yang sangat bagus walau sekedar panggung pernikahan. Aku bersyukur.
-----------
Setiap manusia diberi kadar perasaan yang berbeda, dan tidak bisa dipungkiri fluktuatif memang, hari ini aku bisa cinta sekali dengan kamu. Perasaan manusia bisa kita mainkan, benar kah?
Coba kamu utarakan apa yang ingin kamu katakan saat ini. "Aku benci sekali sama kamu". Aku akan menjadi pemurung, pemalas dan aku bisa memainkan perasaan kamu, aku akan katakan "Terlebih aku benci sama kamu". Apakah kamu menjadi pemurung bahkan pemalas? "Tidak, Aku akan meninggalkan kamu".
Dengan mudah perasaan dibuat, "I'm always there with you"
Dengan mudah perasaan diciptakan, "Kita putus!"
Aku masih bersandar di kursi kayu ini, masih tetap menunggu sembari sesekali memperhatikan jam di layar handphone. Terlalu cepat berubah, detik ke menit. Aku percaya kita masih bisa bertemu, walau batinku mulai berbicara yang bukan-bukan. Sekiranya apa yang pertama kamu ucapkan saat kita bertemu nanti, di tempat ini. "Aku rindu sekali sama kamu", "Kamu apa kabar?".
Aku masih disini, berharap boneka beruang besar ini bisa menjadi kado terindah. Saat kamu bilang "Maaf, aku tidak bisa datang kali ini, dan untuk seterusnya, terima kasih sudah memberikan perhatian yang besar selama ini", aku masih menunggu dan akan tetap menunggu.
Tuhan, Kau benar-benar membuat aku ingin sekali menjadi seorang penyanyi profesional, tampaknya aku bisa menyuguhkan 'pertunjukan' yang sangat bagus walau sekedar panggung pernikahan. Aku bersyukur.
-----------
Setiap manusia diberi kadar perasaan yang berbeda, dan tidak bisa dipungkiri fluktuatif memang, hari ini aku bisa cinta sekali dengan kamu. Perasaan manusia bisa kita mainkan, benar kah?
Coba kamu utarakan apa yang ingin kamu katakan saat ini. "Aku benci sekali sama kamu". Aku akan menjadi pemurung, pemalas dan aku bisa memainkan perasaan kamu, aku akan katakan "Terlebih aku benci sama kamu". Apakah kamu menjadi pemurung bahkan pemalas? "Tidak, Aku akan meninggalkan kamu".
Dengan mudah perasaan dibuat, "I'm always there with you"
Dengan mudah perasaan diciptakan, "Kita putus!"
Aku masih bersandar di kursi kayu ini, masih tetap menunggu sembari sesekali memperhatikan jam di layar handphone. Terlalu cepat berubah, detik ke menit. Aku percaya kita masih bisa bertemu, walau batinku mulai berbicara yang bukan-bukan. Sekiranya apa yang pertama kamu ucapkan saat kita bertemu nanti, di tempat ini. "Aku rindu sekali sama kamu", "Kamu apa kabar?".
Aku masih disini, berharap boneka beruang besar ini bisa menjadi kado terindah. Saat kamu bilang "Maaf, aku tidak bisa datang kali ini, dan untuk seterusnya, terima kasih sudah memberikan perhatian yang besar selama ini", aku masih menunggu dan akan tetap menunggu.
"Summer turned to winter and the snow it turned to rain and the rain turned into tears upon your face".
----------
November 16, 2010
Cafe Seberang (Bagian Pertama)
Kali ini aku menghabiskan waktu makan siang di Café seberang kantor, seorang diri. Black coffee nya sangat kental yang disajikan bersama daun mint menjadi minuman favorit ku. Aku memang suka menyendiri, dengan begitu aku bebas melakukan apa saja tanpa harus ada yang merasa diabaikan. Ya, aku memang tipe orang yang tidak banyak bicara. Kebanyakan orang yang baru berjumpa dengan aku, selalu mempunyai anggapan bahwa aku orang yang sombong, tapi anggapan itu mulai sirna saat mereka mulai dekat dengan aku, mulai merasakan sosok yang berbeda dari aku. Siang ini aku hanya ingin sendiri, seperti siang-siang sebelumnya.
Tidak banyak memang siang ini yang sekedar singgah untuk menikmati sajian di Café ini, tidak dipungkiri makanan di sini memang istimewa, sangat cocok untuk pekerja kantoran yang lebih sering mementingkan cita rasa. Selain menu yang selalu berganti tiap hari, harganya pun sangat pas buat kalangan pekerja kantoran seperti saya.
Liima belas menit waktu berlalu, aku duduk, menghabiskan lima batang rokok. Biasanya aku sudah melihat dia, selalu bersama tiga temannya.
Sesaat kemudian dia datang hanya seorang diri, tidak biasanya. Kali ini aku perhatikan matanya agak merah, terlihat lesu. Jujur, aku sangat senang dengan keadaan seperti ini, aku selalu menunggu kesempatan ini, sudah dua bulan aku menyembunyikan perasaan ku ini. Aku mulai jatuh cinta. Entah kenapa saat ini perasaan ku berbeda, aku rindu saat ia tertawa lepas bersama teman-temannya. Tetapi kali ini aku ingin melindungi dia, ingin berbagi dengannya. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini, duduk satu meja dengan dia.
“Siang, sendiri?” tanyaku
“Eh, ya.” jawabnya sedikit kaget
“Teman kamu yang lain mana? tidak keberatan jika saya temani?"
“Boleh, silakan”
Ia tersenyum, menandakan ia tidak merasa terganggu sekedar aku temani mengobrol, aku duduk di kursi berhadapan dengan dia. Oh Tuhan, kali ini aku benar-benar dekat dengan dia.
“Kamu sudah pesan makan?” tanyaku
“Ini aku baru mau pesan”
Terjadi begitu saja, kami mulai dekat, mulai bisa memainkan emosi masing-masing. Kami mulai terbuka untuk bicara masalah pribadi sekalipun. Aku masih tidak percaya dengan kondisi yang aku alami saat ini, terlebih saat ia menyerahkan secarik kertas, sebuah kartu nama. Dari situ aku tahu namanya, tempat ia bekerja, bahkan nomor telepon yang bisa aku hubungi kapanpun aku mau. Aku pun sempat tidak percaya kalau dia seorang General Manager, jauh diatas jabatan yang aku pegang saat ini.
Keakraban kami pun tiba-tiba terpecah saat telepon selularnya berdering. Ia tampak serius menanggapi, sesekali ia berdiri dan menatap kosong ke luar jendela.
"Maaf ya, aku harus segera pergi"
"Oh, iya gak apa-apa, saya juga harus balik ke kantor" jawabku
"Thank you yah" balasnya, tidak lupa memberikan senyumanya yang manis, "See you" tambahnya
"See You"
Ia berlalu pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan sebuah luka. Luka yang tidak ingin aku sembuhkan.
Tidak banyak memang siang ini yang sekedar singgah untuk menikmati sajian di Café ini, tidak dipungkiri makanan di sini memang istimewa, sangat cocok untuk pekerja kantoran yang lebih sering mementingkan cita rasa. Selain menu yang selalu berganti tiap hari, harganya pun sangat pas buat kalangan pekerja kantoran seperti saya.
Liima belas menit waktu berlalu, aku duduk, menghabiskan lima batang rokok. Biasanya aku sudah melihat dia, selalu bersama tiga temannya.
Sesaat kemudian dia datang hanya seorang diri, tidak biasanya. Kali ini aku perhatikan matanya agak merah, terlihat lesu. Jujur, aku sangat senang dengan keadaan seperti ini, aku selalu menunggu kesempatan ini, sudah dua bulan aku menyembunyikan perasaan ku ini. Aku mulai jatuh cinta. Entah kenapa saat ini perasaan ku berbeda, aku rindu saat ia tertawa lepas bersama teman-temannya. Tetapi kali ini aku ingin melindungi dia, ingin berbagi dengannya. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini, duduk satu meja dengan dia.
“Siang, sendiri?” tanyaku
“Eh, ya.” jawabnya sedikit kaget
“Teman kamu yang lain mana? tidak keberatan jika saya temani?"
“Boleh, silakan”
Ia tersenyum, menandakan ia tidak merasa terganggu sekedar aku temani mengobrol, aku duduk di kursi berhadapan dengan dia. Oh Tuhan, kali ini aku benar-benar dekat dengan dia.
“Kamu sudah pesan makan?” tanyaku
“Ini aku baru mau pesan”
Terjadi begitu saja, kami mulai dekat, mulai bisa memainkan emosi masing-masing. Kami mulai terbuka untuk bicara masalah pribadi sekalipun. Aku masih tidak percaya dengan kondisi yang aku alami saat ini, terlebih saat ia menyerahkan secarik kertas, sebuah kartu nama. Dari situ aku tahu namanya, tempat ia bekerja, bahkan nomor telepon yang bisa aku hubungi kapanpun aku mau. Aku pun sempat tidak percaya kalau dia seorang General Manager, jauh diatas jabatan yang aku pegang saat ini.
Keakraban kami pun tiba-tiba terpecah saat telepon selularnya berdering. Ia tampak serius menanggapi, sesekali ia berdiri dan menatap kosong ke luar jendela.
"Maaf ya, aku harus segera pergi"
"Oh, iya gak apa-apa, saya juga harus balik ke kantor" jawabku
"Thank you yah" balasnya, tidak lupa memberikan senyumanya yang manis, "See you" tambahnya
"See You"
Ia berlalu pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan sebuah luka. Luka yang tidak ingin aku sembuhkan.
September 28, 2010
sore itu (1)
Alunan melodi ini kudengar bercampur rasa yang aku sendiri tak tahu, kenapa?. Cerah sore ini membuat hangat ruang kantor, selepas istirahat makan siang ku tempatkan sweater yang sedari pagi memberiku kehangatan, walau semu, pada kursi kantor. Sesekali aku tersenyum kecil, tepatnya hanya ada empat karyawan berseragam abu-abu di dalam ruangan ini yang tidak terlalu disibukkan dengan goresan pena atau ketikan pada keyboard, selebihnya sibuk dengan urusan masing-masing.
Ah, sial.
Justru aku tidak suka dengan situasi seperti ini, malah membuat pikiran ini kembali kepada memori ingatan yang sangat aku benci. Ingin sekali kubenturkan kepala ini, berharap aku tidak harus mengingat kembali semua peristiwa yang membuat aku merasa bodoh dan cengeng. Keadaan ini membuat aku muak!.
Apakah aku harus tetap mensyukuri semua yang membuat aku ingin menjadi orang lain? Kamu.
September 15, 2010
Test!
"Mas, videonya keren" sambil merhatiin video Unfinished Song
"Makasih dek"
"Kapan mau buatin lagu buat saya?" :D
"Hehehe.."
Semuanya tak terduga, akhirnya kata itu terucap dari bibirnya "Silakan dek, tidak apa-apa"
Terima kasih buat inspirasinya, akhirnya punya Blog juga "Unfinished Ideas"
Subscribe to:
Posts (Atom)






















